Halaman

Rabu, 21 November 2012

Peran Hormonal pada Jantung


Syaraf-syaraf simpatetik juga berakhir dibagian medulla dari kelenjar adrenal. Didalam respon terdapat aktivasi simpatetik, jaringan kelenjar ini mengeluarkkan sejumlah besar epinefrin dan sedikit norepinefrin ke dalam darah. Hormon ini kemudian bertindak sebagai messenger (baca) bahan-bahan kimia untuk menimbulkan respon konstriktor umum, kecuali di dalam pembulu darah jantung dan otot rangka. Selama latihan, pengendalian hormonal dari aliran darah regional relative kecil jika dibandingkan dengan pengendalian hormonal dari aliran darah local yang cepat dan dengan kekuatan dorongan syaraf simpatetik.
Tabel. Efek Hormon pada Curah Jantung
Hormon
Mekanisme Efek
Norepinefrin
Meningkatkan permeabilitas ion natrium dan ion kalsium pada jantung. Peningkatan ion natrium pada nodus SA akan menurunkan perubahan muatan ion (resting membrane potential) dan memacu akselerasi sel-sel pacu jantung sehingga terjadi penurunan konduksi atrium ke ventrikel.
Asetikolin
Dilepaskan oleh ujung saraf parasimpatis, meningkatkan permeabilitas ion kalium di nodus SA akibat menurunnya denyutan nodus SA. Penurunan tansmisi implus akan menurunkan denyut jantung, volume sekuncup dan curah jantung. Umumnya serabut vasomotor mengeluarkan epinefrin yang merupakan vasokonstriktor kuat, akan tetapi pada otot rangka beberapa serabut vasomotor mengeluarkan asetilkolin yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
Hormon Tiroid
T3 dan T4 berpotensi untuk memberikan aksi pada peningkatan kadar katekolamin (norepinefrin dan epinefrin) dengan efek dapat meningktkan denyut jantung dan volume sekuncup
Glukagon
Glukagon memiliki efek inotropik pada jantung dengan menstumulasi kontraktilitas otot jantung

2 komentar: